Demi Redakan Ketegangan dengan Islam, Menlu Prancis Melawat ke Kairo

Untuk menurunkan kemelut dengan dunia arab. Susul protes massa atas penerbitan kembali lagi karikatur yang disebutkan memvisualisasikan nabi muhammad. Menteri luar negeri prancis jean-yves le drian berkunjung kairo. Mesir.

Dalam kunjungan pada minggu 8 november 2020. Le drian berjumpa dengan presiden abdel fattah al-sisi. Menteri luar negeri mesir sameh shoukry. Serta imam besar al-azhar. Ahmed al-tayeb. Yang disebut kewenangan muslim paling tinggi di mesir. Di kesempatan itu. Le drian bicara mengenai “penghormatan dalam” dari negaranya pada islam.

Mencuplik laporan dw indonesia. Selasa (10/11/2020. Tatap muka le drian dengan imam besar al-azhar benar-benar ditunggu-tunggu. Ingat al-azhar adalah instansi referensi terpenting untuk muslim sunni. Lawatan itu mengulas keputusan majalah satir prancis. Charlie hebdo. Yang cetak ulangi kartun polemis itu pada september lalu.

Bulan kemarin. Tayeb mencela pengakuan presiden prancis emmanuel macron mengenai “separatisme islamis” selaku pengakuan yang “rasis” serta menebarkan “pidato kedengkian”.

Pro-kontra kebebasan berekspresif

Pengakuan macron ini tampil sesudah seorang terdakwa berlebihanis islam memotong kepala seorang guru sekolah di tepian kota paris di bulan oktober. Sesudah memperlihatkan kartun itu ke muridnya sepanjang jam pelajaran mengenai kebebasan berekspresif.

Separatisme islam yang diartikan macron mengarah pada warga paralel di kelompok minoritas muslim yang semakin menghindari diri dari konstitusi negara. Serta hidup di bawah payung syariah.

Masalah karikatur. Status tayeb tetap sama di hari minggu saat ia memperjelas kembali lagi pembelaannya pada kesucian islam. Menggambar nabi muhammad tidak boleh keras dalam islam.

“mengejek nabi kami benar-benar tidak bisa diterima. Serta kami akan memburu siapa saja yang tidak menghargakan nabi kami yang terhormat di pengadilan internasional. Bahkan juga bila kami habiskan tersisa hidup kami cuman untuk permasalahan ini.” tegasnya dalam pengakuan yang dikeluarkan oleh al-azhar.

“saya orang pertama yang protes kebebasan berekspresif bila kebebasan ini menyalahi agama apa saja. Tidak cuma islam.” tutur tayeb.

“kami menampik untuk memvisualisasikan terorisme ialah islami.” sambungnya. “al-azhar sebagai wakil suara nyaris dua miliar muslim. Serta saya ucapkan jika teroris tidak sebagai wakil kami. Serta kami tidak bertanggungjawab pada sesuatu yang mereka kerjakan. “

Ditugaskan untuk menurunkan kemelut. Le drian usaha sampaikan pesan yang melunakkan sesudah tatap muka itu.

“saya menulis banyak titik konvergensi dalam riset kami semasing.” tutur le drian ke reporter. “imam besar menyarankan supaya kita bekerja bersama ke arah konvergensi bersama… Sebab kita harus bersama menantang fanatisme.”

Dalam pertemuan jurnalis bersama menteri luar neger mesir sameh shoukry di hari minggu. Le drian sudah berpesan dengan suara nyaman.

“saya sudah mengutamakan. Serta mengutamakan di sini rasa hormat dalam yang kami punyai pada islam.” kata le drian. “apa yang kita perangi ialah terorisme. Ini ialah pembajakan agama. Ini ialah berlebihanisme.”

Demo pecah di sejumlah negara sebagian besar muslim sesudah macron bela hak penerbitan karikatur yang dilihat oleh beberapa orang selaku penghinaan serta gempuran pada islam.

Presiden al-sisi sendiri sudah menimbang pro-kontra itu di bulan lalu. Serta menjelaskan jika “mengejek beberapa nabi sama juga dengan menyepelekan kepercayaan agama beberapa orang.”

Kecuali menurunkan tekanan. Lawatan le drian termasuk juga untuk membahas negara tetangga mesir yang dirundung perselisihan. Yaitu libya. Le drian direncanakan akan lakukan perjalanan ke maroko untuk berjumpa beberapa petinggi di kerajaan itu di hari senin 9 november.

Politik prancis tengah naik-turun dipacu pengakuan beresiko presidennya. Emmanuel macron masalah radikal muslim.

 

error: Content is protected !!